KEJUJURAN DIRI
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang
wanita paruh baya dan seorang laki-laki remaja. Wanita paruh baya tersebut
bernama bu Yam dan anaknya bernama Radit. Mereka hidup di desa yang jauh dari
perkotaan. Pekerjaan wanita ini hanya
mencari kayu bakar. Sedangkan anaknya sekarang sedang menduduki bangku SMA,
tepatnya kelas 12 atau kelas 3 SMA. Anak tersebut senang karena dirinya akan
segera lulus sekolah. Namun ibunya justru sedih dan bingung memikirkan
bagaimana keadaan anankya setelah lulus sekolah besok. Apakah anaknya akan
melanjutkan keperguruan tinggi atau justru mencari pekerjaan yang ada disekitar
desa. Memang anak tersebut termasuk anak yang cerdas dan rajin disekolahnya,
namun tetap saja ibunya bingung dengan masa depan anaknya itu. Ibunya takut
jika Radit itu pergi jauh dari desa tersebut karena pasti ia akan hidup sendiri
di desa. Ibu pun sering sakit-sakitan dan selalu memaksakan pekerjaannya.
Pada suatu hari, Radit pulag dari
sekolah. “ Assalamu’alaikum ibu! ”, sapa Radit. “ Iya nak. Kau sudah pulang? ”,
jawab si ibu. “ Sudah bu. Apakah ibu sudah makan?”, tanya si anak. “ Ibu sudah
makan, sekarang ganti pakaian lalu makan dulu nak ”. Perintah ibu. “ Ya bu“.
sahut si Radit. Setelah Radit berganti pakaian dia pun langsung menuju tempat
makan dan saat dia melihat makanan yang ada diatas meja dia pun sedih karena
makanan yang ada disitu hanyalah nasi, ikan asin, dan sambal. Hampir setiap
hariia hanya makan makanan seperti itu. Setiap hari pun hanya ada sepiring nasi,
ikan asin, dan sambal yang selalu ia makan setiap pulang sekolah. Untuk pagi
harinya ia tidak pernah makan atau sarapan. Iya hanya minum segelas air kendi
yang ada di dapur. Tetapi Radit beruntung karena teman-temannya di sekolah baik
dan tak jarang membawakan jajan ataupun makanan untuk Radit. Namun dengan
imbalan Radit harus mau mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah (PR) milik
teman-temannya tersebut. Jika dia tidak seperti itu, mungkin dia hanya akan
bisa makan sehari sekali saja. Terkadang dia sebal dengan ulah teman-temannya
yang selalu memperlakukan dirinya seenak mereka. Radit hanya dianggap seperti
seorang budak yang diperintah untuk ini itu. Namun apa daya Radit butuh uang
yang terkadang mereka berikan untuk membeli buku maupun untuk membayar keperluan
sekolah yang lain. Ibumemang tidak pernah tahu apa yang aku lakukan disekolah.
Ibu hanya tahu aku anak yang sering mendapat nilai bagus dan prestasi yang baik
disekolah. Ibu tidak tahu aku mendapat nilai dan prestasi itu dari mana, entah
aku belajar denagn sungguh-sungguh atau denancara yang curang. Ibu juga tidak
pernah tahu bahwa dari kelas 10 atau kelas 1 SMA aku selalu diperlakukan
semaunya oleh teman-temanku. Aku memang tidak pernah menceitakan hal-hal yang
buruk yang aku lakukan selama aku berada disekolah. Aku kadang berpikir inigin
mnceritakan hal-hal itu kepada ibu namun aku takut jika ibuku melarangku dan
kemudian ibu bekerja lebih keras lagi, memaksakan dirinya untuk bekerja agar
aku dapat membayar keperluanku disekolah. Aku takut karena ibuku sering
sakit-sakitan. Aku juga sering berpikir “ Apakah ibu juga sering makan nasi
seperti ku?”. Jika ibu juga memakan nasi sepertiku pasti terdapat 2 piring
diatas meja. Namun mengapa setiap hari hanya selalu tersedia 1 piring nasi saja
yang disediakan ibu untuk ku. Aku sering berpikir apa iya bu tidak pernah makan
nasi.
Sekarang aku libur sekolah karena
hari ini hari minggu. Pada saat aku bangun pagi untuk salat tahajud ibu pun
sudah berwudhu dan akan segera salat malam juga. Setelah itu kita pun salat
subuh berjamaah setelah melakukan shalat malam. Karena salat malam yang tadi
dilakukan itu sudah hampir mendekati waktu subuh. Setelah salat subuh aku pun
tidur sejenak hingga hari pun mulai terang. Namun tidak dengan ibu. Ibu justru
berdo’a dan berdzikir terus hingga hari mulai terang. Saat aku terbangun pun
ibu sudah bersiap-siap untuk mencari kayu bakar. Namun saat ibu akan berangkat,
hujan pun langsung turun dengan derasnya di pagi hari diikuti dengan suara
petir yang menggelegar. Ibu pun tidak jadi berangkat untuk mencari kayu. Ibu
masuk lagi kedalam rumah dan mengobrol bersamaku. Ibu bertanya “ Apa kamu lapar
Dit?”. Radit menjawab “ Tidak bu. Aku tidak lapar. Apa ibu lapar?”. “ Tidak.
Ibu tidak lapar”, jawab si ibu. Namun disaat mereka asik berbincang-bincang
terdengarlah suara perut ibu yang keroncongan dan sepertinya itu menandakan
bahwa ibu sedang lapar. Tiba-tiba Radit masuk kedalam kamarnya dan saat ia
keluar ia membawa sebuah kotak yang berisi kue dan roti yang enak. Ibu terkejut
melihat isi dari kotak tersebut. Ibu juga mengira bahwa Radit mencuri makanan
itu. “ Radit tidak mencuri makanan ini bu. Radit diberi oleh teman Radit yang
ada disekolah ”, kata Radit. Ternyata saat pulang sekolah Radit diberi sebua
kotak yang berisikan makanan oleh teman-temannya disekolah. Terkadang Radit
juga diberi roti oleh gurunya yang baik namun hanya ada 1 buah saja yang biasa
aku makan saat aku merasakan lapar sekali. Setelah aku berkata seperti itu
kepada ibu. Ibupun akhirnya mau memakan roti tersebut. Wajah ibu sangat
sumringah dan senang saat sedang makan roti tersebut. “ Rasanya sungguh enak
nak ”,kata ibu. “ Iya bu. Apa ibu suka?”, tanya si anak. “Iya ibu suka sekali
nak “, sahut si ibu. Sang anak pun tersenyum dan bahagia melihat wajah si ibu.
Hingga pada suatu hari, Radit berangkat ke sekolah dan mengikuti pelajaran
seperti biasa.
Disaat pulang sekolah anak-anak pun
berhamburan keluar kelas. Kebetulan ada sebuah handphone yang terjatuh didekat
bangku Radit setelah berhamburannya anak-anak yang lain. Radit sangat bingung
saat melihat handphone tersebut. “ Milik siapa ini?”, ucap Radit. Radit takut
melihat handphone itu. Radit bingung karena hanya ada Radit seorang yang berada
dikelas tesebut. Pada akhirnya dia memberanikan diri untuk mengambil handphone
itu. Kemudian tanpa berpikir lama dia membuka handphone itu agar tahu siapa
pemilikinya. Setelah dia membuka handphone tersebut dia sekarang tahu bahwa
ternyata handphone itu milik Alan, teman sekelasnya yang terkenal tajir dan
sombong. Kemudian dia langsung tergesa-gesa pergi keluar kelas dan mencari si
Alan. Namun alhasil Alan sudah tidak berada disekolah. Radit pun bingung lagi,
mau dikemanakan handphone tersebut. Setelah beberapa saat dia berpikiran akan
membawa handphone itu pulang ke rumah lalu besok pagi akan dikembalikan ke Alan
lagi. Setelah itu dia langsung pulang kerumahnya dengan perasaan hati yang
tidak tenang. Setelah beberapa waktu, malam hari pun tiba. Setelah Radit dan
ibunya melakukan salat berjamaah tiba-tiba terdengar suara orang yang sedang
mengetuk pintu dengan keras dan terdengar suara yang memanggil nama Radit.
Radit dan ibunya pun keluar rumah untuk melihat siapa yang datang kerumahnya
tersebut. Saat pintu telah dibuka ternyat ada Alan, teman Radit yang memiliki
handphone tadi. Saat itu juga Alan marah-marah dan mengolok-olok Radit karena
handphoe yang tadi ditemukannya. Alan menuduh Radit, bahwa Raditlah yang
mencuri handphone tadi. Si ibu pun bingung dan kaget saat mendengar tuduhan
tersebut. Saat itu Radit pun masuk kedalam rumah dan mengambil handphone itu
yang kemudian dikembalikan ke Alan. Alan berkata “ Nah, sudah terbuktikan bahwa
Radit yang mengambil handphone ku ”. Radit menjawab “ Sungguh bukan aku yang
mengambil handphone itu. Tadi aku hanya melihat barang itu disamping mejaku
lalu aku ambil dan besok akan aku kembalikan kepadamu. Karena kemarin aku elah
mencarimu keliling sekolah tapi kamu sudah tidak ada “. “ Alah, itu hanya
alasan mu saja”, sahut si Alan. Kemudian si ibu pun berkata “ Nak, mengapa kamu
mengecewakan ibu. Ibu tidak pernah berpikiran bahwa kamu seberani itu nak”. Ibu
memperlihatkan ekspresi kecewanya dengan
berkata seperti itu. Saat itu juga wanita paruh baya itu hanya bisa mengelus dada.
Matanya nanar dan berkaca-kaca. Kemudian Alan langsung pergi dari rumah Radit.
Radit pun langsung menyusul ibu nya kedalam kamar dan menjelaskan apa yang
sebenarnya terjadi. Namun ibu masih belum percaya dan hanya diam saja saat
Radit menjelaskan semuanya. Beberapa waktu kemudian, akhirnya Raditpun tertidur
dikamar si ibu dan si ibu pun menangis semalaman karena belum dapat mempercayai
semua itu.
Hingga pada pagi hari Radit
berpamitan kepada ibunya. Namun si ibu tetap diam saja dan bersikap sangat
dingin kpada Radit. Saat di perjalanan, perasaan Radit pun sanga tidak karuan.
Karena dia berpikir bahwa pasti saat disekolah nanti akan di cemooh oleh
teman-temannya dan saat dirumah sikap ibunya pun sangat dingin. Ternyata benar
dugaannya tersebut. Saat dia sampai disekolahnya, dia di cemooh dan dikucilkan
oleh teman-temannya. Hari ini dia pun sangat sedih dan tidak konsentrasi
belajar saat disekolah karena suasana yang tidak enak tersebut. Sesampainya
dirumah, dia melakukan aktivitas seperti biasa. Namun kebetulan hari ini si ibu
tidak menyiapkan makanan sama sekali karena beliau tidak mencari kayu bakar sehingga dia tidak punya
uang untuk membeli makanan. Tiba-tiba setelah Radit mengganti pakaian , si ibu
pun memanggil Radit. Radit pun menghampiri ibu nya yang sedang duduk di teras
luar. Ibu nya berkata “ Nak, jujur saja pada ibu apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak usah menutupi apapun dari ibu”. “ Bu, Radit jujur. Radit tidak mencuri
handphone itu. Radit hanya menemukannya disamping meja jadi Radit ambil. Radit
sama sekali tidak ada niat mencuri. Radit hanya akan mengembalikannya esok
hari,” kata Radit. “ Ibu percaya nak tentang itu. Tapi yang ibu bingungkan
mengapa kamu tidak pernah meminta uang kepada ibu untuk membayar keperluan
sekolahmu?. Apakah ada yang kamu tutupi dari ibu ?,” sahut ibu. Radi menjawab “
Terimakasih bu. Ibu telah percaya pada Radit. Radit tidak mau memebani ibu, ibu
telah merawat Radit hingga Radit dapat bertahan dan bersekolah sampai sekarang.
Radit mendapatkan uang dari sekolah da dari teman-teman. Karena Radit sering
menbantu mereka bu. Radit tidak menutupi apa-apa dari ibu. Apakah ibu menutupi
sesuatu dariku?”. “ Ibu tidak menutupi apa-apa nak,” kata ibu. “ Ibu tidak
jujur pada ku. Aku sudah jujur pada ibu. Aku hanya bertanya 1 pertanyaan pada
ibu. Mengapa selama ini ibu hanya menyediakan sepiring saja yang biasanya aku
makan. Apa ibu tidak pernah makan?”. Tanya Radit. “ Ibu selama ini bekerja
mencari kayu bakar dan menjadi kuli panggul di pasar. Jadi ibu selalu diberi
upah namun upah itu hanya cukup untuk membeli beberapa keperluan sehari-hari
dan makanan sepiring itu nak. Ibu makan dari makanan yang diberikan juragan
ibu. Maafkan ibu selama ini ibu menutupi semuanya. Ibu hanya takut semua ini
menjadi beban pikiranmu,” jawab ibu. “ Iya bu. Mulai sekarang jangan ada yang
di tutupi ya bu. Kita saling jujur dan terbuka tentang apapun. Agar jika ada
masalah dapat dipecahkan bersama. Radit mengerti mengapa ibu melakukan semua
itu,” sahut Radit. “ Iya nak. Terimakasih nak kamu telah mengerti ibu,” jawab
ibu. Akhirnya merekapun saling jujur dan berjanji tidak akan saling
menutup-nutupi apapun itu. Mereka pun merasa lebih baik karena dapat memecahkan
masalah dan mencari jalan keluar secara bersama saat
sedang ada masalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar