Kamis, 19 Mei 2016

Cerpen Kejujuran Diri




KEJUJURAN DIRI

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang wanita paruh baya dan seorang laki-laki remaja. Wanita paruh baya tersebut bernama bu Yam dan anaknya bernama Radit. Mereka hidup di desa yang jauh dari perkotaan.  Pekerjaan wanita ini hanya mencari kayu bakar. Sedangkan anaknya sekarang sedang menduduki bangku SMA, tepatnya kelas 12 atau kelas 3 SMA. Anak tersebut senang karena dirinya akan segera lulus sekolah. Namun ibunya justru sedih dan bingung memikirkan bagaimana keadaan anankya setelah lulus sekolah besok. Apakah anaknya akan melanjutkan keperguruan tinggi atau justru mencari pekerjaan yang ada disekitar desa. Memang anak tersebut termasuk anak yang cerdas dan rajin disekolahnya, namun tetap saja ibunya bingung dengan masa depan anaknya itu. Ibunya takut jika Radit itu pergi jauh dari desa tersebut karena pasti ia akan hidup sendiri di desa. Ibu pun sering sakit-sakitan dan selalu memaksakan pekerjaannya.

Pada suatu hari, Radit pulag dari sekolah. “ Assalamu’alaikum ibu! ”, sapa Radit. “ Iya nak. Kau sudah pulang? ”, jawab si ibu. “ Sudah bu. Apakah ibu sudah makan?”, tanya si anak. “ Ibu sudah makan, sekarang ganti pakaian lalu makan dulu nak ”. Perintah ibu. “ Ya bu“. sahut si Radit. Setelah Radit berganti pakaian dia pun langsung menuju tempat makan dan saat dia melihat makanan yang ada diatas meja dia pun sedih karena makanan yang ada disitu hanyalah nasi, ikan asin, dan sambal. Hampir setiap hariia hanya makan makanan seperti itu. Setiap hari pun hanya ada sepiring nasi, ikan asin, dan sambal yang selalu ia makan setiap pulang sekolah. Untuk pagi harinya ia tidak pernah makan atau sarapan. Iya hanya minum segelas air kendi yang ada di dapur. Tetapi Radit beruntung karena teman-temannya di sekolah baik dan tak jarang membawakan jajan ataupun makanan untuk Radit. Namun dengan imbalan Radit harus mau mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah (PR) milik teman-temannya tersebut. Jika dia tidak seperti itu, mungkin dia hanya akan bisa makan sehari sekali saja. Terkadang dia sebal dengan ulah teman-temannya yang selalu memperlakukan dirinya seenak mereka. Radit hanya dianggap seperti seorang budak yang diperintah untuk ini itu. Namun apa daya Radit butuh uang yang terkadang mereka berikan untuk membeli buku maupun untuk membayar keperluan sekolah yang lain. Ibumemang tidak pernah tahu apa yang aku lakukan disekolah. Ibu hanya tahu aku anak yang sering mendapat nilai bagus dan prestasi yang baik disekolah. Ibu tidak tahu aku mendapat nilai dan prestasi itu dari mana, entah aku belajar denagn sungguh-sungguh atau denancara yang curang. Ibu juga tidak pernah tahu bahwa dari kelas 10 atau kelas 1 SMA aku selalu diperlakukan semaunya oleh teman-temanku. Aku memang tidak pernah menceitakan hal-hal yang buruk yang aku lakukan selama aku berada disekolah. Aku kadang berpikir inigin mnceritakan hal-hal itu kepada ibu namun aku takut jika ibuku melarangku dan kemudian ibu bekerja lebih keras lagi, memaksakan dirinya untuk bekerja agar aku dapat membayar keperluanku disekolah. Aku takut karena ibuku sering sakit-sakitan. Aku juga sering berpikir “ Apakah ibu juga sering makan nasi seperti ku?”. Jika ibu juga memakan nasi sepertiku pasti terdapat 2 piring diatas meja. Namun mengapa setiap hari hanya selalu tersedia 1 piring nasi saja yang disediakan ibu untuk ku. Aku sering berpikir apa iya bu tidak pernah makan nasi.

Sekarang aku libur sekolah karena hari ini hari minggu. Pada saat aku bangun pagi untuk salat tahajud ibu pun sudah berwudhu dan akan segera salat malam juga. Setelah itu kita pun salat subuh berjamaah setelah melakukan shalat malam. Karena salat malam yang tadi dilakukan itu sudah hampir mendekati waktu subuh. Setelah salat subuh aku pun tidur sejenak hingga hari pun mulai terang. Namun tidak dengan ibu. Ibu justru berdo’a dan berdzikir terus hingga hari mulai terang. Saat aku terbangun pun ibu sudah bersiap-siap untuk mencari kayu bakar. Namun saat ibu akan berangkat, hujan pun langsung turun dengan derasnya di pagi hari diikuti dengan suara petir yang menggelegar. Ibu pun tidak jadi berangkat untuk mencari kayu. Ibu masuk lagi kedalam rumah dan mengobrol bersamaku. Ibu bertanya “ Apa kamu lapar Dit?”. Radit menjawab “ Tidak bu. Aku tidak lapar. Apa ibu lapar?”. “ Tidak. Ibu tidak lapar”, jawab si ibu. Namun disaat mereka asik berbincang-bincang terdengarlah suara perut ibu yang keroncongan dan sepertinya itu menandakan bahwa ibu sedang lapar. Tiba-tiba Radit masuk kedalam kamarnya dan saat ia keluar ia membawa sebuah kotak yang berisi kue dan roti yang enak. Ibu terkejut melihat isi dari kotak tersebut. Ibu juga mengira bahwa Radit mencuri makanan itu. “ Radit tidak mencuri makanan ini bu. Radit diberi oleh teman Radit yang ada disekolah ”, kata Radit. Ternyata saat pulang sekolah Radit diberi sebua kotak yang berisikan makanan oleh teman-temannya disekolah. Terkadang Radit juga diberi roti oleh gurunya yang baik namun hanya ada 1 buah saja yang biasa aku makan saat aku merasakan lapar sekali. Setelah aku berkata seperti itu kepada ibu. Ibupun akhirnya mau memakan roti tersebut. Wajah ibu sangat sumringah dan senang saat sedang makan roti tersebut. “ Rasanya sungguh enak nak ”,kata ibu. “ Iya bu. Apa ibu suka?”, tanya si anak. “Iya ibu suka sekali nak “, sahut si ibu. Sang anak pun tersenyum dan bahagia melihat wajah si ibu. Hingga pada suatu hari, Radit berangkat ke sekolah dan mengikuti pelajaran seperti biasa.

Disaat pulang sekolah anak-anak pun berhamburan keluar kelas. Kebetulan ada sebuah handphone yang terjatuh didekat bangku Radit setelah berhamburannya anak-anak yang lain. Radit sangat bingung saat melihat handphone tersebut. “ Milik siapa ini?”, ucap Radit. Radit takut melihat handphone itu. Radit bingung karena hanya ada Radit seorang yang berada dikelas tesebut. Pada akhirnya dia memberanikan diri untuk mengambil handphone itu. Kemudian tanpa berpikir lama dia membuka handphone itu agar tahu siapa pemilikinya. Setelah dia membuka handphone tersebut dia sekarang tahu bahwa ternyata handphone itu milik Alan, teman sekelasnya yang terkenal tajir dan sombong. Kemudian dia langsung tergesa-gesa pergi keluar kelas dan mencari si Alan. Namun alhasil Alan sudah tidak berada disekolah. Radit pun bingung lagi, mau dikemanakan handphone tersebut. Setelah beberapa saat dia berpikiran akan membawa handphone itu pulang ke rumah lalu besok pagi akan dikembalikan ke Alan lagi. Setelah itu dia langsung pulang kerumahnya dengan perasaan hati yang tidak tenang. Setelah beberapa waktu, malam hari pun tiba. Setelah Radit dan ibunya melakukan salat berjamaah tiba-tiba terdengar suara orang yang sedang mengetuk pintu dengan keras dan terdengar suara yang memanggil nama Radit. Radit dan ibunya pun keluar rumah untuk melihat siapa yang datang kerumahnya tersebut. Saat pintu telah dibuka ternyat ada Alan, teman Radit yang memiliki handphone tadi. Saat itu juga Alan marah-marah dan mengolok-olok Radit karena handphoe yang tadi ditemukannya. Alan menuduh Radit, bahwa Raditlah yang mencuri handphone tadi. Si ibu pun bingung dan kaget saat mendengar tuduhan tersebut. Saat itu Radit pun masuk kedalam rumah dan mengambil handphone itu yang kemudian dikembalikan ke Alan. Alan berkata “ Nah, sudah terbuktikan bahwa Radit yang mengambil handphone ku ”. Radit menjawab “ Sungguh bukan aku yang mengambil handphone itu. Tadi aku hanya melihat barang itu disamping mejaku lalu aku ambil dan besok akan aku kembalikan kepadamu. Karena kemarin aku elah mencarimu keliling sekolah tapi kamu sudah tidak ada “. “ Alah, itu hanya alasan mu saja”, sahut si Alan. Kemudian si ibu pun berkata “ Nak, mengapa kamu mengecewakan ibu. Ibu tidak pernah berpikiran bahwa kamu seberani itu nak”. Ibu memperlihatkan ekspresi  kecewanya dengan berkata seperti itu. Saat itu juga wanita paruh baya itu hanya bisa mengelus dada. Matanya nanar dan berkaca-kaca. Kemudian Alan langsung pergi dari rumah Radit. Radit pun langsung menyusul ibu nya kedalam kamar dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun ibu masih belum percaya dan hanya diam saja saat Radit menjelaskan semuanya. Beberapa waktu kemudian, akhirnya Raditpun tertidur dikamar si ibu dan si ibu pun menangis semalaman karena belum dapat mempercayai semua itu.

Hingga pada pagi hari Radit berpamitan kepada ibunya. Namun si ibu tetap diam saja dan bersikap sangat dingin kpada Radit. Saat di perjalanan, perasaan Radit pun sanga tidak karuan. Karena dia berpikir bahwa pasti saat disekolah nanti akan di cemooh oleh teman-temannya dan saat dirumah sikap ibunya pun sangat dingin. Ternyata benar dugaannya tersebut. Saat dia sampai disekolahnya, dia di cemooh dan dikucilkan oleh teman-temannya. Hari ini dia pun sangat sedih dan tidak konsentrasi belajar saat disekolah karena suasana yang tidak enak tersebut. Sesampainya dirumah, dia melakukan aktivitas seperti biasa. Namun kebetulan hari ini si ibu tidak menyiapkan makanan sama sekali karena beliau tidak  mencari kayu bakar sehingga dia tidak punya uang untuk membeli makanan. Tiba-tiba setelah Radit mengganti pakaian , si ibu pun memanggil Radit. Radit pun menghampiri ibu nya yang sedang duduk di teras luar. Ibu nya berkata “ Nak, jujur saja pada ibu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak usah menutupi apapun dari ibu”. “ Bu, Radit jujur. Radit tidak mencuri handphone itu. Radit hanya menemukannya disamping meja jadi Radit ambil. Radit sama sekali tidak ada niat mencuri. Radit hanya akan mengembalikannya esok hari,” kata Radit. “ Ibu percaya nak tentang itu. Tapi yang ibu bingungkan mengapa kamu tidak pernah meminta uang kepada ibu untuk membayar keperluan sekolahmu?. Apakah ada yang kamu tutupi dari ibu ?,” sahut ibu. Radi menjawab “ Terimakasih bu. Ibu telah percaya pada Radit. Radit tidak mau memebani ibu, ibu telah merawat Radit hingga Radit dapat bertahan dan bersekolah sampai sekarang. Radit mendapatkan uang dari sekolah da dari teman-teman. Karena Radit sering menbantu mereka bu. Radit tidak menutupi apa-apa dari ibu. Apakah ibu menutupi sesuatu dariku?”. “ Ibu tidak menutupi apa-apa nak,” kata ibu. “ Ibu tidak jujur pada ku. Aku sudah jujur pada ibu. Aku hanya bertanya 1 pertanyaan pada ibu. Mengapa selama ini ibu hanya menyediakan sepiring saja yang biasanya aku makan. Apa ibu tidak pernah makan?”. Tanya Radit. “ Ibu selama ini bekerja mencari kayu bakar dan menjadi kuli panggul di pasar. Jadi ibu selalu diberi upah namun upah itu hanya cukup untuk membeli beberapa keperluan sehari-hari dan makanan sepiring itu nak. Ibu makan dari makanan yang diberikan juragan ibu. Maafkan ibu selama ini ibu menutupi semuanya. Ibu hanya takut semua ini menjadi beban pikiranmu,” jawab ibu. “ Iya bu. Mulai sekarang jangan ada yang di tutupi ya bu. Kita saling jujur dan terbuka tentang apapun. Agar jika ada masalah dapat dipecahkan bersama. Radit mengerti mengapa ibu melakukan semua itu,” sahut Radit. “ Iya nak. Terimakasih nak kamu telah mengerti ibu,” jawab ibu. Akhirnya merekapun saling jujur dan berjanji tidak akan saling menutup-nutupi apapun itu. Mereka pun merasa lebih baik karena dapat memecahkan masalah dan mencari jalan keluar secara bersama saat sedang ada masalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar